Senin, 11 April 2016

Gambar Proyeksi dan Perspektif

Kata proyeksi secara umum berarti bayangan. Gambar proyeksi berarti gambar bayangan suatu benda yang berasal dari benda nyata atau imajiner yang dituangkan dalam bidang gambar menurut cara-cara tertentu. Cara-cara tersebut berkenaan dengan arah garis pemroyeksi yang meliputi sejajar (paralel) dan memusat (sentral). Arah yang sejajar terdiri atas sejajar tegak lurus terhadap bidang gambar dan sejajar akan tetapi miring terhadap bidang gambar.
pandangan-sejajar-tegak1Berdasarkan arah garis pemroyeksi tersebut dikenal berbagai jenis gambar proyeksi. Garis pemroyeksi yang sejajar tegak lurus terhadap bidang gambar menghasilkan gambar proyeksi orthogonal yang terdiri dari proyeksi Eropa, proyeksi Amerika, dan proyeksi Aksonometri. Garis pemroyeksi yang sejajar tetapi miring terhadap bidang gambar menghasilkan proyeksi Oblik (miring). Sementara garis pemroyeksi yang memusat (sentral) terhadap bidang gambar menghasilkan gambar perspektif.
pandangan-sejajar-tegak1
Gb.1. Contoh  pandangan sejajar tegak
Secara umum berbagai jenis gambar proyeksi dan perspektif tersebut difungsikan sebagai sarana komunikasi dalam bentuk pictorial. Benda kongkret yang ada, misalnya meja atau kursi, digambarkan sedemikian rupa sehingga dipahami oleh orang lain. Benda imajiner (khayalan penggambar), misalnya meja atau kursi yang sebelumnya tidak ada digambarkan sedemikian rupa sehingga dipahami oleh orang lain misalnya tukang atau pemesan. Gambar proyeksi dan perspektif lebih banyak menampilkan benda imajiner, oleh karena itu sangat bermanfaat dalam bidang perencanaan.
1. Proyeksi Ortogonal (Eropa)
Penampilan gambar proyeksi Eropa relative sederhana dibandingkan dengan yang lain. Gambar ini menampilkan pandangan atas, depan (muka), dan samping. Oleh karena itu proyeksi Eropa sangat tepat digunakan untuk kepentingan perancangan mebel atau desain produk.
Sistem gambar proyeksi Eropa dihasilkan dari pemroyeksian pada ruang atau sudut pertama (first angel). Oleh karena itu proyeksi Eropa sering disebut proyeksi “Kuadran Pertama” atau “Kuadran I”. Ruang atau sudut penampilan tersebut berbentuk tiga dimensi, yang terdiri atas 3 bidang, yakni bidang I, II, dan III. Bidang I berfungsi untuk menampilkan bayangan benada tampak dari atas, bidang II untuk bayangan benda tampak depan, dan bidang III untuk bayangan benda tampak dari samping kiri. Oleh karena itu proyeksi Eropa sering dikelompokkan dalam proyeksi multiview (tampak ganda).
Jika diperhatikan sistem proyeksi Eropa ini menempatkan posisi benda/obyek yang digambar berada di antara titik pengamat (proyektor) dan proyeksi benda. Jika diurutkan maka posisi tersebut adalah pengamat, objek, dan gambar proyeksi. Posisi pengamat terhadap bidang gambar adalah tegak lurus. Di samping itu, masing-masing garis pemroyeksi yang merupakan hubungan dari titik pengamat dan benda sehingga menghasilkan proyeksi tersebut adalah sejajar sesamanya.
Ruang / sudut yang berbentuk tiga dimensi ini diubah sedemikian rupa menjadi dua dimensi. Dengan kata lain diubah menjadi bidang datar sehingga dapat dituangkan ke dalam bidang atau kertas gambar. Perubahan sudut / ruang tersebut dapat dilihat dalam gambar berikut:
ruang-proyeksi-eropa
Gb.2. Konstruksi ruang dalam proyeksi Eropa
pemutaran1
pemutaran2
Gb.3. Ruang dalam proyeksi Eropa yang dibentangkan menjadi bidang datar.
sumbu-proyeksi
Gb 4. Sumbu proyeksi Eropa yang terbentuk karena rebahan ruang.
proyeksi-titik1
Gb. 5. Contoh cara memproyeksikan sebuah titik.
proyeksi-kubus
Gb.6. Contoh benda berupa kubus yang diproyeksikan dengan cara Eropa.
2. Proyeksi Aksonometri
Proyeksi Aksonometri tergolong jenis proyeksi sejajar (paralel) dan juga tegak (ortogonal). Perbedaannya dengan proyeksi Eropa terutama adalah dalam penampilan tampak. Dalam proyeksi Aksonometri diupayakan untuk penampilan tampak atas, depan, dan samping dalam satu kesatuan gambar tidak seperti dalam proyeksi Eropa yang terpisah oleh bidang-bidang. Gambar proyeksi Aksonometri menampilkan objek gambar baik yang kongkret maupun imajiner ke dalam bayangan tiga dimensi, oleh karena itu aksonometri tergolong jenis proyeksi piktorial.
Jenis proyeksi Aksonometri dikelompokkan menjadi tiga, yaitu:
  1. Proyeksi Isometri
Proyeksi isometri adalah jenis proyeksi aksonometri berpenampilan tiga dimensi atau piktorial dengan besaran sudut masing-masing 120 0, dan perbadingan masing-masing ukuran tinggi, panjang, dan dalam yaitu 1:1:1. Besar sudut sumbu 1200 dapat digunakan alternatif dibuat sudut 300 terhadap horisontal (baik sudut kanan maupun kiri)
isometri1Gb.7. Tampilan gambar isometri.
b. Proyeksi Dimetri
Penggunaan isometri seringkali menyebabkan distorsi pada gambar yang ditampilkan, dan garis-garis yang berimpit. Kelemahan ini dapat ditanggulangi dengan proyeksi dimetri. Dimetri artinya ada dua jurusan sumbu yang sama panjang. Pada dimetri perbandingan yang sama terdapat pada dimensi tinggi dan panjang. Perbandingan yang lazim digunakan yaitu 2:2:1 atau 3:3:1 Perbandingan ini diikuti dengan konsekuensi pada sudut objek yang digambar terhadap garis horizon yaitu 41,4 derajat untuk sudut sebelah kanan dan 7,2 derajat untuk sudut sebelah kiri.
dimetri
Gb. 8. Tampilan gambar dimetri.
c. Trimetri
Penggunaan proyeksi dimetri ternyata dirasakan banyak terjadi distorsi, oleh karena itu ukuran kedua rusuk/sumbu salah satunya (rusuk panjang) perlu dipendekkan, sehingga perbandingan yang sering digunakan adalah 10:9:5 atau 6:5:4.

trimetri
Gb. 9. Tampilan gambar Trimetri.
3. Gambar Perspektif
Dalam penglihatan kita sehari-hari, benda-benda yang letaknya lebih dekat dengan mata terlihat lebih besar dan benda-benda yang terletak lebih jauh dengan mata terlihat lebih kecil. Semakin jauh letak benda dari mata kita, benda itu akan terlihat semakin kecil hingga akhirnya hanya tampak sebagai titik saja. Demikian juga dua benda atau lebih yang letaknya sejajar dan membujur menjauhi kita, semakin jauh dari mata, keduanya akan terlihat semakin berdekatan hingga akhirnya saling berimpit dan akan menjadi satu titik.
konstruksi-1
Gb. 9. Konstruksi gambar perspektif
Seperti halnya dalam proyeksi Eropa maka dalam gambar perspektifpun diupayakan agar bidang-bidang yang semula saling berpotongan harus dibentangkan menjadi bidang datar. Pembentangan tersebut dapat dilihat seperti pada gambar di bawah ini. Bidang mata dibentangkan ke atas menjadi sejajar dengan bidang tafrir, begitu juga dengan bidang tanah yang dibentangkan ke bawah menjadi sejajar dengan bidang tafrir.
bukaan-perspektif1
Gb.10. Bidang hasil pembentangan bidang mata dan bidang tanah menjadi sejajar bidang tafrir.
Selanjutnya, untuk kepentingan menggambar perspektif bidang itu menjadi disederhanakan seperti di bawah inisumbu-perspektif3
Gb.11. Posisi mata, distansi,  tinggi tafrir, garis horizon, dan garis tanah.
bukaan-perspektif2
Gb.12. Contoh sebuah titik yang diproyeksikan dengan gambar perspektif
1. Perspektif satu titik lenyap (one point perspective)
Sistem perespektif ini digunakan untuk menggambar obyek (benda) yang terletak relatif dekat dengan mata. Karena letak obyek yang cukup dekat, akibatnya mata memiliki sudut pandang yang sempit, sehingga garis-garis batas benda akan menuju satu titik lenyap saja, kecuali bila sejajar dengan horizon dan tegak lurus terhadapnya. Gambar yang demikian sering disebut dengan paralel perspective sebab banyak menggunakan garis-garis bantu yang sejajar horizon dan vertikal. Penerapan gambar ini banyak digunakan pada gambar rancang bangun (desain) interior.
2. Perspektif dua titik lenyap (two point perspective)
Sistem gambar ini digunakan untuk menggambarkan benda-benda yang letaknya relatif jauh dan letaknya tidak sejajar (serong) terhadap mata pengamat. Karena posisi pengamat jauh dengan obyek maka sudut pandang mata melebar, akibatnya garis-garis batas benda akan menuju titik lenyap sebelah kiri dan kanan. Gambar ini banyak digunakan untuk desain eksterior.
3. Perspektif tiga titik lenyap (three point perspective)
Gambar perspektif ini muncul akibat benda/obyek yang diamati jauh di bawah atau ke atas horizon. Oleh karenanya sudut pandang mata melebar ke segala arah. Perspektif ini banyak digunakan untuk menggambar arsitektur bangunan yang serba tinggi.
Jika kita mengamati gambar di atas, titik A pada bidang tafrir yang merupakan titik pertemuan garis mata dengan kedudukan titik tersebut yang ditarik lurus ke garis tanah kemudian diteruskan ke P sebagai titik hilang. Memproyeksikan titik sebenarnya dapat melalui 4 cara seperti di bawah ini:
Cara pertama
perspektif-titik1
Cara kedua
perspektif-titik2
Cara ketiga
perspektif-titik3
Cara keempat
sumbu-perspektif22
perspektif-titik4
Gb.13. Proyeksi sebuah garis yang tegak lurus dengan garis tanah.
Untuk benda-benda yang memiliki dimensi tinggi perhatikan gambar di bawah ini. Garis ketinggian benda diukur dari garis tanah tepat pada perpanjangan garis benda di garis tanah. Ukuran garis tinggi benda diukur dengan ukuran sebenarnya
perspektif-titik6
Sumber:
– Syafi,i. 2002. Proyeksi-Perspektif 1. Paparan Perkuliahan Mahasiswa.Semarang: UNNES Press.

TUGAS :

1.    Buatlah gambar Contoh benda berupa kubus yang diproyeksikan dengan cara Eropa. ( Gambar 6 ).
2.    Gunakan buku gambar dan menggunakan Etiket Gambar Teknik


Jumat, 08 April 2016

INDUKTOR

Induktor adalah sebuah komponen elektronika pasif yang dapat menyimpan energi pada medan magnet yang ditimbulkan oleh arus listrik yang melintasinya. Kemampuan induktor untuk menyimpan energi magnet ditentukan oleh induktansinya, dalam satuan Henry. Biasanya sebuah induktor adalah sebuah kawat penghantar yang dibentuk menjadi kumparan/ lilitan membantu membuat medan magnet yang kuat di dalam kumparan dikarenakan hukum induksi Faraday. Induktor adalah salah satu komponen elektronik dasar yang digunakan dalam rangkaian yang arus dan tegangannya berubah-ubah dikarenakan kemampuan induktor untuk memproses arus bolak-balik. Sebuah induktor ideal memiliki induktansi, tetapi tanpa resistansi atau kapasitansi, dan tidak memboroskan daya. Sebuah induktor pada kenyataanya merupakan gabungan dari induktansi, beberapa resistansi karena resistivitas kawat, dan beberapa kapasitansi. Pada suatu frekuensi, induktor dapat menjadi sirkuit resonansi karena kapasitas parasitnya. Selain memboroskan daya pada resistansi kawat, induktor berinti magnet juga memboroskan daya di dalam inti karena efek histeresis, dan pada arus tinggi mungkin mengalami nonlinearitas karena penjenuhan.
Fungsi Rinci dari Induktor adalah :
1. Penyimpan arus listrik dalam bentuk medan magnet
2. Menahan arus bolak-balik/ac
3. Meneruskan/meloloskan arus searah/dc
4. Sebagai filter




Selasa, 05 April 2016

Relay

Relay adalah sebuah saklar elekronis yang dapat dikendalikan dari rangkaian elektronik lainnya. Relay terdiri dari 3 bagian utama, yaitu:

  1. Coil : lilitan dari relay
  2. Common : bagian yang tersambung dengan NC (dalam keadaan normal)
  3. Contact : terdiri dari NC dan NO
Membedakan NC dengan NO:
  1. NC (Normally Closed) : saklar dari relay yang dalam keadaan normal (relay tidak diberi tegangan) terhubung dengan common.
  2. NO (Normally Open) : saklar dari relay yang dalam keadaan normal (relay tidak diberi tegangan) tidak terhubung dengan common.
Sama seperti saklar, pada umumnya yang digunakan dalam rangkaian elektronika ada 2 jenis yaitu:
  1. Relay SPDT (Single Pole Double Throw) = Relay 5 Kaki
  2. Relay DPDT (Double Pole Double Throw) = Relay 8 Kaki
Berikut ini adalah gambar Simbol Relay SPDT dan Bentuk fisiknya :


 Berikut ini adalah gambar Simbol Relay DPDT dan Bentuk Fisiknya :




 Sebenarnya masih ada 2 jenis relay lagi. Akan tetapi sangat jarang ada di pasaran. Karena penggunaannya pun juga jarang. Hanya sekedar pengetahuan saja, 2 jenis relay tersebut adalah sebagi berikut :


  1. Relay SPST (Single Pole Single Throw)
  2. Relay DPST (Double Pole Single Throw) 

Sumber : Edukasi Elektronika

Cara Menghitung Nilai Resistor pada Rangkaian LED Seri dan LED Paralel

Dasar perancangan rangkaian LED adalah menggunakan rumus hukum Ohm :

V = I x R

dimana :
V = Tegangan (Volt)
I = Arus (Ampere)
R = Hambatan (Ohm)

1. Rangkaian LED Seri

Dua Led yang disusun secara seri akan membutuhkan tegangan dua kali lebih besar. Jika ada tiga Led yang disusun seri maka tegangan yang dibutuhkannya akan menjadi tiga kali lebih besar, dan seterusnya.

Contoh Kasus :
Budi mempunyai battery 12 Volt, dia ingin menghidupkan LED 5 volt yang disusun secara seri sebanyak 2 buah agar menyala maksimal, arus LED standart adalah 20 mA. Berapakah nilai Resistor dan nilai daya Resistor yang dibutuhkan?

Jawaban :

Vs        = 12 Volt
Vled      = 2 x 5 Volt = 10 Volt
Iled        = 20 mA
Nilai Resistor dapat dihitung dengan rumus berikut ini :
R = = (Vs-Vled)/Iled = (12 Volt-10 Volt)/(0.02 Ampere) = 100 Ohm
VResistor = Vs-Vled = 2 Volt
IResistor = Iled = 20 mA (Dalam rangkaian seri arus yang mengalir dalam setiap komponen adalah sama).
Daya Resistor dapat dihitung dengan rumus berikut ini :
P = VResistor x IResistor = 2 Volt x 0.02 Ampere = 0.04 Watt = 40 mW
Jadi, yang dibutuhkan untuk rangkaian LED seri tersebut adalah Resistor 100 Ohm dengan kemampuan daya 0.04 Watt, hal ini cukup dengan menggunakan Resistor 100 Ohm ¼ Watt yang ada dipasaran.

Di sini VLed adalah penjumlahan tegangan dua Led, sedangkan ILed adalah arus yang ditarik oleh Led. Karena Led disusun secara seri, maka arus yang melalui Led pertama adalah arus yang melalui Led kedua juga, sehingga di sini arus Led adalah tetap untuk perhitungan satu Led, yaitu 20mA (tidak menjadi dua kali lipat). Sekalipun (misalnya) ada seratus Led yang disusun secara seri, arusnya tetap saja 20mA, hanya tegangannya saja yang menjadi perlu lebih besar sesuai dengan banyaknya Led yang disusun.
Menyusun Led secara seri memerlukan tegangan minimal sebesar jumlah tegangan dari banyaknya Led yang disusun.  Kelebihan dari penyusunan secara seri adalah lebih kecilnya bilangan daya yang dikonsumsi oleh Led dikarenakan arus yang ditariknya tidaklah berdasarkan penjumlahan banyaknya led.
Namun perlu diperhatikan bahwa dengan menyambungkan secara seri Led-Led, ada kemungkinan terjadi ketidak sinkronan kerja di antara Led-Led. Semua Led yang terlibat dalam sambungan seri haruslah mempunyai karakteristik yang benar-benar sama, tidak boleh ada yang berbeda.  Jika dalam satu barisan seri ada Led yang berbeda karakteristik (misalnya ada perbedaan jenis atau perbedaan tegangan majunya karena berlainan pabrik/merk atau manufaktur) maka tegangan yang terbagi kepada setiap Led akan berlain-lainan pula.  Ini bisa menyebabkan terjadinya pelimpahan tegangan yang berlebihan kepada salah satu Led, dan jika Led tersebut tidak mampu bertahan maka ia akan segera rusak.  Dalam susunan seri, jika ada satu Led yang mati karena rusak, maka semua Led lainnya di dalam satu barisan seri tersebut akan ikut tidak menyala.
 
2. Rangkaian LED Paralel

Led yang disusun secara paralel tidaklah membutuhkan tegangan berkali lipat sebagaimana banyaknya Led. Jika satu Led (misalnya) membutuhkan tegangan 5 V, maka sepuluh Led tetap hanya membutuhkan tegangan 5 V.  Sekalipun (misalnya) ada seratus Led disusun secara Paralel, tegangan yang dibutuhkan tetap saja 5 V.  Namun arus yang dikonsumsinya akan menjadi berkali lipat sebagaimana banyaknya Led.
Contoh Kasus :
Budi mempunyai battery 12 Volt, dia ingin menghidupkan LED 5 volt yang disusun secara paralel sebanyak 2 buah agar menyala maksimal, arus LED standart adalah 20 mA. Berapakah nilai Resistor dan nilai daya Resistor yang dibutuhkan?
Vs        = 12 Volt
Vled      = 5 Volt
Iled        = 2 x 20 mA = 40 mA
Nilai Resistor dapat dihitung dengan rumus berikut ini :
R = (Vs-Vled)/Iled = (12 Volt-5 Volt)/(0.04 Ampere) = 170 Ohm
VResistor = Vs-Vled = 7 Volt
IResistor = Iled = 40 mA
Daya Resistor dapat dihitung dengan rumus berikut ini :

P = VResistor x IResistor = 7 Volt x 0.04 Ampere = 0.28 Watt 


Jadi, yang dibutuhkan untuk rangkaian LED seri tersebut adalah Resistor 170 Ohm dengan kemampuan daya 0.28 Watt, hal ini cukup dengan menggunakan Resistor 180 Ohm ½ Watt yang ada dipasaran.
Pada penyusunan Led secara paralel seperti ini arus yang dikonsumsi menjadi 2 kali lipat (sesuai banyaknya Led) padahal tegangannya adalah sama.

Sumber : Edukasi Elektronika
 

Cara Menyolder/Menggunakan Solder dengan Baik dan Benar

Solder merupakan alat bantu dalam merakit atau membongkar rangkaian elektronika pada rangkaian yang terdapat pada papan PCB. solder merupakan alat elektronika yang mengubah energi listrik menjadi energi panas. Solder banyak jenis dan beragam bentuknya, pada umumnya berbentuk seperti pistol, dan lurus dengan mata solder di ujung yang berbentuk lancip, dan dilengkapi tombol pengatur suhu ukuran tinggi rendahnya panas yang dihasilkan untuk membuat kawat timah mencair agar dapat melepaskan atau menyatukan kaki-kaki komponen pada papan PCB. Suhu panasnya yang terlalu berlebihan dapat merusak komponen atau menyebabkan komponen lain ikut terlepas. Solder pula digunakan untuk upaya alternatif jumper dengan menghubungkan kabel kecil pada hubungan yang putus pada papan PCB agar yang retak atau terputus agar dapat tersambung kembali.





Cara menggunakan Solder

1. Berikut ini adalah cara memegang solder yang baik.
 2. Langkah selanjutnya adalah dengan menancapkan mata atau ujung solder ke komponen pada
papan PCB.
 3. Kalau mata solder sudah ditancapkan, selanjutnya adalah lelehkan kawat atau tinol dengan cara tempelkan kawat ke mata solder.
 4. Kemudian perlahan lepas kawat dan juga soldernya seperti contoh pada gambar dibawah ini.

 5. Jangan lupa bersihkan solder Anda setelah digunakan.

Sumber : Edukasi Elektronika


Rabu, 30 Maret 2016

KOMPONEN ELEKTRO : RESISTOR (BAG 2)

Kita lanjutkan pembahasan tentang resistor.pada postingan sebelumnya [Resistor bagian 1] kita sudah membahas tentang jenis resistor karbon/film beserta cara membaca gelang – gelangnya. Sekarang kita lanjutkan tipe yang lain dari resistor.
R-Ray (Resistor Jajar)
Adalah resistor dengan nilai yang sama dijadikan dalam satu kemasan. Masing – masing dari salah satu kaki resistor dijadikan satu (common) seperti pada gambar. Kaki common pada bentuk fisik dapat dikenali yaitu ada tanda titik pada salah satu ujungnya. Jumlah resistornya pun bermacam, ada yang 8 (R-ray 9 pin), 9 resistor (R-ray 10 pin). Ada juga yang menamai dengan 9-commoned resistors (untuk resistor dengan jumlah 9), 8-commoned resistors.
Nilai resistansinya tertulis pada body dengan kode, misalnya 103, berarti 10×103 Ohm = 10 K Ohm.
Potensiometer / variable Resistor
Potensiometer/Variabel Resistor (biasa disingkan “VR”) adalah tipe resistor yang dapat diubah nilai resistansinya. Nilai potensiometer tertera pada kemasannya, meskipun setiap tipe potensiometer terdapat kode yang berbeda. Misalnya pada body potensiometer tertera 100K berarti nilai resistansinya 100 Kilo Ohm. Untuk tipe multi turn dan trimpot, nilai resistansinya menggunakan kode, misalnya 102, berarti nilai resistansinya 10×102 = 1000 Ohm. Angka ketiga (dalam contoh tersebut ‘2’) merupakan nilai pangkat dari 10 yang dikalikan dengan 2 angka pertama (dalam contoh adalah ‘10’). Ada juga yang menghtung dengan cara 102 = 10 ditambah 00 =1000 Ohm (angka 2 menunjukkan jumlah angka ‘nol’ tambahan=00).
Ada beragam potensiometer, kita dapat memilihnya sesuai dengan penggunaannya seperti terlihat pada gambar.


Multi turn mampu berputar sampai 20 putaran, bahkan ada yang sampai 25 putaran, berbeda dengan single turn (gambar a) dan trimpot yang tidak sampai 1 putaran penuh (sekitar 2400).
LDR (Light Dependent Resistor)
Resistor yang nilai resistansinya berubah jika terkena cahaya disebut LDR. Pada cahaya gelap nilai resistansinya maksimum, sedangkan pada kondisi paling terang nilai resistansinya minimum. Komponen ini biasa dipakai pada sensor cahaya.

PTC (Positive Temperature Coefficient)

Komponen ini merupakan resistor yang akan berubah nilai resistansinya jika terkena perubahan temperatur/panas. Nilai tahanannya akan bertambah jika suhu bertambah panas.

NTC (Negative Temperature Coefficient)
Kebalikan dari karakteristik PTC, maka pada NTC jika terkena suhu panas resistansinya akan turun.


Alhamdulillah, untuk pengenalan komponen elektronika yaitu resistor kita cukupkan sampai disini dulu. Lain kali kita lanjutkan cara pengujian resistor.

Sumber : Elektro Kita

KOMPONEN ELEKTRO : RESISTOR (BAG 1)

Komponen ini merupakan komponen dasar rangkaian elektronika. Hampir semua memakainya. Harganya juga murah, untuk ukuran ¼ W 10% per-biji  Rp 50,- saja. Fungsi dari resistor tergantung dari rangkaianya, misalnya untuk membatasi arus, membagi tegangan. Terdapat bermacam resistor, sesuai dengan fungsinya yang akan kita pelajari berikut ini. Resistor Karbon dan Metalfilm Resistor jenis ini banyak kita jumpai, bentuknya relatif kecil, biasanya untuk rangkaian dengan arus kecil, antara 1/8 W sampai 2 W.

Pada resistor karbon dan metalfilm terdapat gelang berwarna sebagai kode yang menandakan nilai dari resistansinya.



Ada yang berjumlah 4 gelang (bisanya warna dasar coklat muda) ada juga yang 5 gelang (biasanya warna dasar biru, kalau di toko elekronika biasa disebut resistor 1 %). Satuan dari nilai resistor adalah ohm dengan symbol Ω (omega). Nilai resistor diatas 1000 Ohm dinyatakan dengan Kilo Ohm disingkat KΩ (1KΩ=1000Ω). Misalnya 4700 Ω dinyatakan dengan 4K7 Ω. 1 Mega Ohm untuk menyatakan resistor dengan nilai lebih dari 1000000 Ohm (1MΩ=106Ω). Sering juga nilai resistor tidak dinyatakan dalam ohm atau Ω, tetapi dengan manambahkan huruf ‘E’ atau ‘R’, misalnya 120E (120R) nilainya sama dengan 120Ω. Keterangan kode gelang seperti pada Tabel .


Untuk lebih mudah dalam menghafalnya, anda dapat menyingkatnya menjadi : Hi – Co – Me – O – Ku – Hi – Bi – U – A – Put – Em – Pe – Ta (Hijau – Coklat – Merah – Orange – Kuning – Hijau – Biru – Ungu – Abu-abu – Emas – Perak – Tak berwarna). Untuk resistor dengan 4 gelang, maka : Gelang ke 1    : Nilai gelang Gelang ke 2    : Nilai gelang Gelang ke 3    : 10nilai gelang Gelang ke 4 : Toleransi Contoh :
Nilai gelang – gelangnya adalah : Kuning = 4, ungu = 7, orange=3 (bernilai 103=1000), emas = 5%. Nilai resistor=47000 Ω 5% (47 KΩ).
Untuk resistor dengan 5 gelang, cara menghitungnya : Gelang ke 1    : Nilai gelang Gelang ke 2    : Nilai gelang Gelang ke 3 : Nilai gelang Gelang ke 4 : 10 nilai gelang Gelang ke 5 : Toleransi Contoh :


Nilai gelang – gelangnya adalah : Orange = 3, orange = 3, hitam = 0, merah = 2 (nilai=102=100), coklat = 1%. Nilai resistor = 33.000 Ohm atau 33 KΩ dengan toleransi 1%. Untuk resistor dibawah 10 Ω, gelang ketiga berwarna emas atau perak. Jika gelang ketiga berwarna emas, maka gelang ketiga sebagai factor kali 0,1 dan jika berwarna perak berarti sebagai factor kali 0,01. Sebagai contoh :
Nilai gelang – gelangnya adalah : Merah = 2, merah = 2, perak = x 0,01, emas = 5%. Nilai resistansinya = 22 x 0,01 = 0,22 Ω 5%. Ketika resistor dilalui arus yang besar akan menyebabkan panas pada resistor, jika panas terus bertambah hingga melebihi batas kemampuan maka resistor akan rusak. Untuk itu maka dibuat resistor dengan berbagai ukuran berdasarkan disipasi dayanya, seperti ¼ watt, ½ watt sampai 11 watt, seperti terlihat pada gambar.

Daya (P) dapat dihitung berdasarkan persamaan : P=V.I Dimana P = daya (Watt) V= tegangan (Volt) I= arus (Amper) Sedangkan persamaan untuk tegangan : V=I.R Maka persamaan …. Menjadi : P=(I.R).I P=I^2 R P=V^2/R  dengan I^2=V^2/R^2 Sebagai contoh jika tegangan 12 Volt melewati tahanan 470 Ω maka disipasi daya tahanan adalah : P=〖12〗^2/470=0,306 W Dari nilai tersebut maka dapat dipakai resistor minimal ½ Watt. Demikian uraian tentang komponen elektronika dasar yaitu resistor, Insya Allah kita lanjutkan pembahasan resistor di artikel yang akan datang. Semoga bermanfaat.

Sumber : Elektro Kita