Kamis, 15 September 2016

PERHITUNGAN RESISTOR UNTUK LED, SUSUNAN SERI DAN PARALEL

Perbandingan susunan Led seri dan susunan Led paralel 

Led seri
Led bisa disusun secara seri dan bisa pula disusun secara paralel.
Dua Led yang disusun secara seri akan membutuhkan tegangan dua kali lebih besar.  Jika ada tiga Led yang disusun seri maka tegangan yang dibutuhkannya akan menjadi tiga kali lebih besar, dan seterusnya.

led seri | led paralel

Pada gambar (A) tampak Led yang disusun secara seri.  Misalnya jika satu Led membutuhkan tegangan 3,1V (untuk Led topi/payung), maka untuk dua Led yang disusun seperti itu Vs perlu sebesar 6,2V.  Karena itu Led yang disusun seri seperti pada gambar (A) bisa langsung diterapkan pada Vs yang bertegangan 6V, misalnya dari baterai atau accu 6V tanpa memerlukan resistor lagi.
Apabila Vs bertegangan 12V (misalnya dari aki/accu motor atau mobil) maka diperlukan resistor R seperti tampak pada gambar (B).
Nilai R itu akan ada sebesar :

R = (Vs – VLed) / ILed

Di sini VLed adalah penjumlahan tegangan dua Led, sedangkan ILed adalah arus yang ditarik oleh Led. Karena Led disusun secara seri, maka arus yang melalui Led pertama adalah arus yang melalui Led kedua juga, sehingga di sini arus Led adalah tetap untuk perhitungan satu Led, yaitu 20mA (tidak menjadi dua kali lipat). Sekalipun (misalnya) ada seratus Led yang disusun secara seri, arusnya tetap saja 20mA, hanya tegangannya saja yang menjadi perlu lebih besar sesuai dengan banyaknya Led yang disusun.

Contoh : Tiga buah Led topi/payung disusun secara seri dengan Vs sebesar 12V, berapakah R yang harus dipasang?
Di sini VLed adalah 3 x 3,1V = 9,3V. ILed adalah 20mA = 0,02A. Maka R yang diperlukan adalah :

R = (12 – 9,3) / 0,02 = 135 Ohm.

Menyusun Led secara seri memerlukan tegangan minimal sebesar jumlah tegangan dari banyaknya Led yang disusun.  Kelebihan dari penyusunan secara seri adalah lebih kecilnya bilangan daya yang dikonsumsi oleh Led dikarenakan arus yang ditariknya tidaklah berdasarkan penjumlahan banyaknya led.  Sebagai contoh dari perhitungan tiga Led seri sebagaimana dipaparkan di atas, konsumsi dayanya adalah : W = V x I = 12 x 0,02 = 0,24 Watt.
Namun perlu diperhatikan bahwa dengan menyambungkan secara seri Led-Led, ada kemungkinan terjadi ketidak sinkronan kerja di antara Led-Led.
Semua Led yang terlibat dalam sambungan seri haruslah mempunyai karakteristik yang benar-benar sama, tidak boleh ada yang berbeda.  Jika dalam satu barisan seri ada Led yang berbeda karakteristik (misalnya ada perbedaan jenis atau perbedaan tegangan majunya karena berlainan pabrik/merk atau manufaktur) maka tegangan yang terbagi kepada setiap Led akan berlain-lainan pula.  Ini bisa menyebabkan terjadinya pelimpahan tegangan yang berlebihan kepada salah satu Led, dan jika Led tersebut tidak mampu bertahan maka ia akan segera rusak.  Dalam susunan seri, jika ada satu Led yang mati karena rusak, maka semua Led lainnya di dalam satu barisan seri tersebut akan ikut tidak menyala..!

Led Paralel
Led yang disusun secara paralel tidaklah membutuhkan tegangan berkali lipat sebagaimana banyaknya Led. Jika satu Led (misalnya) membutuhkan tegangan 3,1V, maka sepuluh Led tetap hanya membutuhkan tegangan 3,1V.  Sekalipun (misalnya) ada seratus Led disusun secara Paralel, tegangan yang dibutuhkan tetap saja 3,1V.  Namun arus yang dikonsumsinya akan menjadi berkali lipat sebagaimana banyaknya Led. Perhatikan gambar (C) dan (D) di atas. 

Pada gambar (C) tampak sebuah Led yang disambungkan kepada sumber tegangan Vs.  Led ini akan menarik arus sebesar 20mA.
Pada gambar (D) tiga buah Led disusun secara paralel, maka arus yang dikonsumsi oleh ketiga Led secara keseluruhan adalah 3 x 20mA = 60mA.
Led yang disusun secara paralel seperti pada gambar (C) dan (D) hanya dimungkinkan jika Vs bertegangan sebagaimana tegangan kerja (tegangan maju) Led, seperti misalnya dari sebuah baterai HP (Hand Phone) yang hanya bertegangan 3,7V.  Apabila Led hendak dihubungkan dengan tegangan yang lebih tinggi, maka setiap Led Harus diseri dengan resistor R sebagaimana pada gambar (E). 

Mengenai perhitungan nilai R untuk setiap Led telah dibahas pada ulasan sebelumnya, jadi, tidak perlu dibahas ulang di sini.
Berbeda dengan penyusunan Led secara seri, pada penyusunan Led secara paralel seperti ini arus yang dikonsumsi menjadi tiga kali lipat (sesuai banyaknya Led) padahal tegangannya adalah sama.  Bandingkanlah antara tiga Led yang disusun secara seri dengan tiga Led yang disusun secara paralel dengan sumber tegangan Vs sebesar 12V.
Pada bagian sebelumnya telah diketahui bahwa tiga Led yang disusun secara seri dengan Vs 12V akan mengkonsumsi daya sebesar 0,24W.  Ketika disusun secara paralel Led-Led ini akan mengkonsumsi daya sebesar : 12 x 0,6 = 0,72W
Berbeda?

Selain penyusunan sebagaimana diperlihatkan pada gambar di atas, ada cara lain untuk penyusunan Led-Led secara paralel.  Perhatikan gambar berikut :

3 Led paralel with resistors

Tiga Led disusun secara paralel dengan langsung, lalu ketiga Led itu disambungkan kepada sumber tegangan Vs melalui sebuah resistor (gambar (F)).  Ini berarti ketiga Led (yang disusun secara paralel) di-seri dengan resistor R1.  Dengan penyusunan seperti ini arus yang melalui resistor adalah jumlah besaran arus dari ketiga Led.  Jika satu Led menarik arus 20mA, maka arus yang melalui resistor adalah 3 x 20mA = 60mA.

Contoh : Dengan susunan seperti gambar di atas, tiga Led standard hendak dihubungkan dengan Vs 12V, berapakah nilai R1 yang harus dipasang?

IR1 = 60mA = 0,06A
R1 = (Vs – VLed) / 0,06 = 138 Ohm.

Perlu diketahui bahwa dengan susunan paralel yang seperti ini ketiga Led sebaiknya mempunyai karakteristik yang benar-benar sama.  Jika tidak, tegangan yang terlimpahkan kepada Led-Led bisa melenceng dari yang diperhitungkan dan bisa saja mengakibatkan kerusakan pada sebagian Led.

Gabungan seri dan paralel
Led yang banyak yang hendak dinyalakan sebagai lampu penerangan bisa disusun dengan menggabungkan sambungan seri dan paralel seperti diperlihatkan pada gambar (G) di atas. 

Pada gambar (G) tampak bahwa setiap barisan seri terdiri dari sebuah resistor dan tiga buah Led, semuanya ada 6 barisan.  Berarti susunan secara keseluruhan adalah susunan seri R dengan 3 Led seri yang diparalel sebanyak 6 baris.
Demikianlah, uraian selengkapnya tentang perhitungan resistor untuk Led.  Mudah-mudahan apa yang dikemukakan dapat dimengerti dengan baik dan bagi yang telah mengikutinya secara seksama dapat pula untuk mempraktekkannya.  Karena itu tidak ada salahnya sekedar latihan untuk mencoba menjawab pertanyaan berikut :
Pada gambar di atas tampak 18 Led yang disusun secara seri dan paralel.
Bisakah dihitung berapakah nilai masing-masing resistornya?
Bisakah diketahui seberapa besar daya yang dikonsumsi oleh Led-Led sebanyak itu?

Sumber : http://www.sandielektronik.com/2014/06/perhitungan-resistor-untuk-led-2.html

PERHITUNGAN RESISTOR UNTUK LED

Perhitungan Resistor Untuk Membuat Lampu Dengan Led 

Dalam tulisan tentang “Lampu Darurat Mati Listrik” sebelumnya telah dipaparkan pembuatan lampu emergency menggunakan Led ultra white (Led putih atau Led neon) dengan sumber tegangan dari baterai HP (Hand Phone).  Dengan menggunakan baterai HP ini Led bisa langsung disambungkan begitu saja, karena tegangan baterai HP hanyalah 3,7V.  Jika Led-Led itu ada beberapa maka tinggal memparalelkan saja kaki-kakinya.
Bagaimanakah jika sumber tegangan yang akan digunakan adalah tegangan yang lebih tinggi, misalnya 6 atau 12V?

Jika anda menyimpan accu (aki) motor lama bertegangan 6V ataupun accu 12V yang ‘menganggur’ (tidak digunakan), anda bisa memanfaatkannya sebagai sumber tegangan untuk lampu darurat yang menggunakan Led.  Jika dibandingkan dengan menggunakan baterai HP, menggunakan accu memang akan membuat lampu menyala lebih lama karena kapasitet accu yang lebih besar.  Led-Led yang dipasang sebagai lampu pun bisa lebih banyak untuk menghasilkan cahaya yang lebih terang.  Yang diperlukan hanyalah perhitungan pemberian resistor kepada Led-Led itu sesuai dengan tegangan yang digunakan.

Perhitungan nilai resistor untuk Led 
Sebelum disambungkan kepada tegangan sebesar 6V ataupun 12V, Led perlu diberikan sebuah resistor.   Jika langsung disambungkan maka Led akan rusak seketika karena tegangan yang diberikan melampaui tegangan kerjanya (tegangan maju Led).

Led with resistor

Setiap Led mempunyai karakteristik tersendiri yang telah ditetapkan oleh pabrik pembuatnya.  Keterangan yang lebih teliti tentang karakteristik Led-Led ini hanya bisa diketahui dengan melihat datasheet dari masing-masing type.  Sebenarnya ada banyak sekali merk Led yang biasa digunakan untuk lampu.  Apa yang dijadikan patokan di sini hanyalah berdasarkan umumnya saja dari kebanyakan Led-Led yang banyak beredar di Indonesia.
Led ultra white / Led lampu berbentuk standard biasanya mempunyai tegangan kerja maksimal 4V dengan konsumsi arus 20mA.  Ketika digunakan, sebaiknya tegangan kerjanya diturunkan hingga sebesar 3,7V. Ini lebih aman supaya Led tidak cepat rusak.
Jika yang digunakan adalah Led jenis ini, maka perhitungan nilai resistornya adalah sebagai berikut :

Jika ILed adalah arus yang dikonsumsi Led, VLed adalah tegangan kerja Led, dan Vsadalah tegangan sumber (accu atau baterai), maka hitungan untuk resistornya ( R ) adalah :

R = VR / ILed

VR adalah tegangan pada resistor, didapatkan dari : VR = Vs – VLed.
Karena itu secara lengkapnya adalah :

R = (Vs – VLed) / ILed.

Contoh : Sebuah Led bentuk standard hendak dihubungkan dengan accu 6V.  Berapa Ohm-kah resistor yang harus dipasang padanya?

ILed = 20mA = 0,02A, VLed = 3,7V, dan Vs = 6V.
R = (Vs – VLed) / ILed
R = (6 – 3,7) / 0,02
R = 115 Ohm.
Dalam prakteknya R bisa menggunakan nilai standard yang mendekati, yaitu 120 Ohm.

Contoh 2 : Sebuah Led standard hendak dihubungkan dengan accu 12V. Berapa Ohm-kah resistor yang harus dipasang padanya?

ILed = 20mA = 0,02A, VLed = 3,7V, dan Vs = 12V.
R = (Vs – VLed) / ILed
R = (12 – 3,7) / 0,02
R = 415 Ohm.
Nilai 415 Ohm tidak standard, untuk mendapatkan nilai ini bisa menyusun secara seri resistor 22 Ohm dan 390 Ohm (hasilnya mendekati, yaitu 412 Ohm) atau menggunakan resistor 420 Ohm jika memang tersedia di pasaran.
Resistor ini dipasang seri (berderet) dengan Led.

Led ultra-white/Led lampu yang berbentuk topi atau payung (secara fisik agak lebih kecil) biasanya mempunyai tegangan kerja maksimal 3,4V dengan konsumsi arus 20mA.  Ketika digunakan, sebaiknya tegangan kerjanya diturunkan hingga sebesar 3,1V. 

Contoh : Sebuah Led kecil berbentuk topi hendak disambungkan dengan accu 12V.  Berapa Ohm-kah resistor yang harus dipasang padanya?

ILed = 20mA = 0,02A, VLed = 3,1V, dan Vs = 12V.
R = (Vs – VLed) / ILed
R = (12 – 3,1) / 0,02
R = 445 Ohm.
Nilai ini tidak standard, untuk mendapatkan nilai ini bisa menyusun seri resistor 390 Ohm dan 56 Ohm, atau menggunakan resistor yang mendekati, yaitu 470 Ohm.

Sumber : http://www.sandielektronik.com/2014/06/perhitungan-resistor-untuk-led.html

Membuat Rangkaian Paralel dan Seri menggunakan Lampu LED

Rangkaian Paralel dan Seri menggunakan Lampu LED

saya mencoba membuat Rangkaian LED agar menjadi sebuah Huruf atau angka dengan menggunakan rangkaian Seri dan Paralel di mana alat dan bahan - bahan nya sangat mudah di dapat dan harganya pun terjangkau.


Membuat Rangkaian Paralel dan Seri menggunakan Lampu LED


Alat dan Bahan Yang di Butuhkan (Materials) :

  1. Papan PCB berlubang (Vero Board) Kalo loe tinggal di wates bs cari di Kurnia Baru!!
  2. 200 buah atau Lebih  LED ( Light Emitting Diode )
  3. Kabel secukupnya (Perkiraan 1,2 Meter)
  4. Adaptor 12 Volt DC bisa Pakai AKI
  5. Solder Listrik
  6. Timah untuk mematri LED (Tinol)
  7. Resistor 20 ohm
             Sebelum kita memulai proses Membuat Rangkaian Paralel dan Seri menggunakan Lampu LED, saya akan menjelaskan  tentang Rangkaian tersebut, karena setiap rangkaian ini memiliki perbedaan
Seperti Contoh saya di gambar, saya menyusun Led menjadi huruf  "TN" dengan rangkaian Paralel dan Seri.

   Dalam memasang LED menjadi Rangkaian Paralel harus kita perhatikan Anoda dan Catodanya, dalam rangkaian ini Semua kaki Anoda di hubungkan dengan kaki Anoda yang lainya (di lambangkan dengan Garis Merah muda ).
sedangkan untuk semua Kaki Catoda di hubungkan juga Kaki Catoda lain ( di lambangkan dengan garis Biru ).
Untuk Rangkaian Paralel hanya di butuhkan sekitar 3 s/d 7 (Volt Pakai Batre juga bs)
dan jika salah satu LED yang sudah di pasang mati atau rusak maka tidak mempengaruhi LED lain ( Led lain tetap menyala )

Membuat Rangkaian Paralel dan Seri menggunakan Lampu LED


Dalam Menyusun Rangkaian LED Seri hanya menghubungkan Kaki Catoda dengan Anoda LED lain sehingga terlihat seperti saling sambung - menyambung terlihat seperti gambar di bawah ( di tandai dengan garis Biru ).
Tegangan yang di butuhkan untuk menghidupkan Led Rangkaian Seri sangat besar, berkisar 12 Volt, dan ketika kita menghidupkannya dengan tegangan 12 volt, Led tersebut tidak akan menyala Rata,
misalkan pada rangkaian di bawah, maka pada bagaian huruf "T" akan menyala terang, sedangkan untu huruf "N" akan menyala sedikit redup bahkan adapula Led yang mati. ini lah kekurangan yang di miliki Rangkaian Seri pada Membuat Rangkaian Paralel dan Seri menggunakan Lampu LED.



Membuat Rangkaian Paralel dan Seri menggunakan Lampu LED
Cara Membuat Rangkaian Paralel dan Seri menggunakan Lampu LED :

  1. Susunlah LED yang sudah kamu sediakan menjadi Huruf atau Nomor yang kamu inginkan sesuai Rangkaian di atas, susunlah kedalam PCB berlubang dengan teliti dan ingat dalam menyusun rangkaian di atas harus memperhatikan kaki Anoda dan Catodanya .
  2. Setelah semua tersusun dengan rapih dan sesuai dengan keinginanmu, gunakan Solder dan timah untuk mematri Led demi Led tersebut  dan juga untuk menghubungkan setiap LED dengan LED lain.
  3. Jika kamu akan membuat beberapa Angka atau Nomor maka untuk menyambungkannya di gunakan kabel sebagai penghubung. untuk rangkaian paralel kabel yang di hubungkan harus sesuai dengan sumbernya, contoh ujung kaki anoda di Huruf "T" harus di sambung ke kaki Anoda Huruf "N".
    tetapi untuk rangkaian Seri hanya menyambungkan kabel dari ujung kaki Catoda "T" ke kaki Anoda "N".
  4. Pasanglah Resistor pada bagian Positif  rangkaian, agar mencegah terjadinya kerusakan pada LED apabila tegangan yang di berikan terlalu besar.
  5. Setelah semua selesai Tes lah rangkaian Paralel tersebut dengan Adaptor / AKI 12 Volt DC, aturlah posisi tegangan ke 3 Volt. Amatilah nyala lampu apakah Terang atau redup, jika Redup naikan menjadi 4,5  Volt atau lebih besar lg. dan jika di dalam rangkaian terdapat salah satu LED mati cobalah untuk 
    memeriksan nya terlebih dengan adaptor, dan jika LED tersebut mati, maka gantilah LED tersebut.
  6. Untuk mengetes Rangkaian Seri sama seperti di atas yaitu hubungkan kabel positif Adaptor ke sisi Anoda yang sudah di beri Resistor dan Kutub Negatif ke Kaki Catoda, atur posisi Adaptor dari 3 s/d 12 Volt perhatikan nyala Led apakah terang sebagian atau redup.
    dan jika salah satu Led mati, maka LED di belakangnya pun akan ikut mati, jadi kamu harus memeriksa Led yang mati tersebut.

          Dalam Membuat Rangkaian Paralel dan Seri menggunakan Lampu LED, kita bisa menghubungkannya dengan Rangkaian lain, seperti Rangkaian Lampu Flip-FlopRunning LEDdan masih banyak lagi.

Pengertian LED (Light Emitting Diode) dan Cara Kerjanya

Pengertian LED dan Cara Kerja LED
Pengertian LED (Light Emitting Diode) dan Cara Kerjanya – Light Emitting Diode atau sering disingkat dengan LED adalah komponen elektronika yang dapat memancarkan  cahaya monokromatik ketika diberikan tegangan maju. LED merupakan keluarga Dioda yang terbuat dari bahan semikonduktor. Warna-warna Cahaya yang dipancarkan oleh LED tergantung pada jenis bahan semikonduktor yang dipergunakannya. LED juga dapat memancarkan sinar inframerah yang tidak tampak oleh mata seperti yang sering kita jumpai pada Remote Control TV ataupun Remote Control perangkat elektronik lainnya.

Bentuk LED mirip dengan sebuah bohlam (bola lampu) yang kecil dan dapat dipasangkan dengan mudah ke dalam berbagai perangkat elektronika. Berbeda dengan Lampu Pijar, LED tidak memerlukan pembakaran filamen sehingga tidak menimbulkan panas dalam menghasilkan cahaya.  Oleh karena itu, saat ini LED (Light Emitting Diode) yang bentuknya kecil telah banyak digunakan sebagai lampu penerang dalam LCD TV yang mengganti lampu tube.

Simbol dan Bentuk LED (Light Emitting Diode)Bentuk dan Simbol LED (Light Emitting Diode)


Cara Kerja LED (Light Emitting Diode)

Seperti dikatakan sebelumnya, LED merupakan keluarga dari Dioda yang terbuat dari Semikonduktor. Cara kerjanya pun hampir sama dengan Dioda yang memiliki dua kutub yaitu kutub Positif (P) dan Kutub Negatif (N). LED hanya akan memancarkan cahaya apabila dialiri tegangan maju (bias forward) dari Anoda menuju ke Katoda.
LED terdiri dari sebuah chip semikonduktor yang di doping sehingga menciptakan junction P dan N. Yang dimaksud dengan proses doping dalam semikonduktor adalah proses untuk menambahkan ketidakmurnian (impurity) pada semikonduktor yang murni sehingga menghasilkan karakteristik kelistrikan yang diinginkan. Ketika LED dialiri tegangan maju atau bias forward yaitu dari Anoda (P) menuju ke Katoda (K), Kelebihan Elektron pada N-Type material akan berpindah ke wilayah yang kelebihan Hole (lubang) yaitu wilayah yang bermuatan positif (P-Type material). Saat Elektron berjumpa dengan Hole akan melepaskan photon dan memancarkan cahaya monokromatik (satu warna).Cara kerja LED (Light Emitting Diode)

LED atau Light Emitting Diode yang memancarkan cahaya ketika dialiri tegangan maju ini juga dapat digolongkan sebagai Transduser yang dapat mengubah Energi Listrik menjadi Energi Cahaya.

Cara Mengetahui Polaritas LED Cara mengetahui polaritas LED


Untuk mengetahui polaritas terminal Anoda (+) dan Katoda (-) pada LED. Kita dapat melihatnya secara fisik berdasarkan gambar diatas. Ciri-ciri Terminal Anoda pada LED adalah kaki yang lebih panjang dan juga Lead Frame yang lebih kecil. Sedangkan ciri-ciri Terminal Katoda adalah Kaki yang lebih pendek dengan Lead Frame yang besar serta terletak di sisi yang Flat.

Warna-warna LED (Light Emitting Diode)

Saat ini, LED telah memiliki beranekaragam warna, diantaranya seperti warna merah, kuning, biru, putih, hijau, jingga dan infra merah. Keanekaragaman Warna pada LED tersebut tergantung pada wavelength (panjang gelombang) dan senyawa semikonduktor yang dipergunakannya. Berikut ini adalah Tabel Senyawa Semikonduktor yang digunakan untuk menghasilkan variasi warna pada LED :
Bahan SemikonduktorWavelengthWarna
Gallium Arsenide (GaAs)850-940nmInfra Merah
Gallium Arsenide Phosphide (GaAsP)630-660nmMerah
Gallium Arsenide Phosphide (GaAsP)605-620nmJingga
Gallium Arsenide Phosphide Nitride (GaAsP:N)585-595nmKuning
Aluminium Gallium Phosphide (AlGaP)550-570nmHijau
Silicon Carbide (SiC)430-505nmBiru
Gallium Indium Nitride (GaInN)450nmPutih

Tegangan Maju (Forward Bias) LED

Masing-masing Warna LED (Light Emitting Diode) memerlukan tegangan maju (Forward Bias) untuk dapat menyalakannya. Tegangan Maju untuk LED tersebut tergolong rendah sehingga memerlukan sebuah Resistor untuk membatasi Arus dan Tegangannya agar tidak merusak LED yang bersangkutan. Tegangan Maju biasanya dilambangkan dengan tanda VF.
WarnaTegangan Maju @20mA
Infra Merah1,2V
Merah1,8V
Jingga2,0V
Kuning2,2V
Hijau3,5V
Biru3,6V
Putih4,0V

Kegunaan LED dalam Kehidupan sehari-hari

Teknologi LED memiliki berbagai kelebihan seperti tidak menimbulkan panas, tahan lama, tidak mengandung bahan berbahaya seperti merkuri, dan hemat listrik serta bentuknya yang kecil ini semakin popular dalam bidang teknologi pencahayaan. Berbagai produk yang memerlukan cahaya pun mengadopsi teknologi Light Emitting Diode (LED) ini. Berikut ini beberapa pengaplikasiannya LED dalam kehidupan sehari-hari.
  1. Lampu Penerangan Rumah
  2. Lampu Penerangan Jalan
  3. Papan Iklan (Advertising)
  4. Backlight LCD (TV, Display Handphone, Monitor)
  5. Lampu Dekorasi Interior maupun Exterior
  6. Lampu Indikator
  7. Pemancar Infra Merah pada Remote Control (TV, AC, AV Player)